OMONG KUPANG

NATIONAL TV FM RADIO KOMPASIANA TOPIK WACANA  OPA JAPPY INDONESIA HARI INI ALKITAB OMONG KUPANG NUSA TENGGARA TIMUR

 

OMONG KUPANG

 

Apa sich Omong Kupang tersebut!? memangnya ada!? atau hanya gaya berbahasa dan bertutur Melayu, yang hampir sama dengan Melayu Ambon dan Melayu Minahasa!? Kenyataannya Omong Kupang tak jauh beda dengan dialek Ambon dan Manado, mungkin saja ketiga model berbahasa dan dialek tersebut lahir dari Nenek Moyang Bahasa yang sama.

OmongKupang dihasilkan melalui proses kreolisasi, dan bukan dialek dari Bahasa Indonesia, tidak juga Bahasa Indonesia yang rusak', dan bukan bahasa slang'. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa yang resmi, baru ditentukan pada abad ke-20sebagai bahasa kesatuan bangsa. Bahasa Indonesia berdasar pada jenis Bahasa Melayu yang dipakai oleh penutur asli pada bidang pemerintahan dan sastradi sekitar keraton-keraton Riau dan Johor.

OmongKupang berdasar Bahasa Melayu, tetapi pola penggunaannya berbeda. Pada awalnya Omong Kupang sebagai alat komunikasi padaperdagangan dan antar suku. Para pedagang/pelaut dari Melayu yang melakukan perdangan ke Timur, sekaligus membawa bahasa yang mudah dimengerti oleh semua (pejulan, pembeli, dan lain), dan itu terjadi mulai dari Bali, Flores, Timor, Makasar, Manado (jika ini pengaruh Bahasa Melayu yang kebelanda-belandaan) sampai Ternate, Tidore, dan Ambon (Melayu Ambon pun kental dengan pengaruh Melayu Belanda atau kebelanda-belandaan).

Bisa dikatakan bahwa Bahasa Indonesia dan Omong Kupang berdasarkan dua jenis Bahasa Melayu yang berbeda, dan Omong Kupang lebih tua sebagai bahasa yang berfungsi dalam masyarakat Kupang, dibandingkan dengan bahasa Indonesia.

Pada waktu bahasa Melayu didatangkan ke wilayah Pulau Timor dan sekitarnya (misanya pada era kolonial), orang setempat yang mulai menggunakan bahasa Melayu tersebut bukan penutur asli dan tidak pakai bahasa Melayu secara sempurna dalam segala bidang; beda dengan bahasa Melayu yang berasal dari Riau dan Johor). Akibatnya ada proses kreolisasi (campur aduk bahasa dan dialek) mulai merubah bahasa Melayu yang dipakai di Kupang dan sekitarnya (Melayu Riau dan Johor) dengan dialek Melayu yang didatangkan belakangan oleh pegawai VOC dan sordadu Belanda.

Dengan demikian apa yang dikenal (sekarang) sebagai Omong Kupang, muncul dari berbagai proses. Menurut tuturan pengguna Omong Kupang dan beberapa ahli bahasa, proses yang melahirkan Omong Kupang, antara lain,

Pertama, Pijinizasi yaitu, morfologi atau pembentukan kata disederhanakan (misalnya, awalan me-, dan akhiran -kan tidak lagi dipakai, dan penggunaan kata kasi dan bekin diperluas; memberi makanan kasi makan, memanaskan bekin panas).

Kedua, Penyesuaian struktur dan pola mencerminkan rnakna supaya rnirip dengan struktur dan pola pikiran bahasa-bahasa lokal. Dengan demikian, pada Omong Kupang berkembang struktur kata kerja serial (yang juga terdapat dalam banyak bahasa daerah sekitar Pulau Timor), tetapi tidak terdapat dalam bahasa Melayu baku dan bahasa Indonesia (misalnya, dong datang mau ame bawa sang dia; dong pi potong ame dia pung kapala, dsb).

Secara semantik, pola kata yang mencerminkan makna juga disesuaikan untuk mengikuti pola bahasa daerah (misalnya, bahasa Indonesia keras kepala, bandel, pada Omong Kupang menjadi kapala batu; kata-kata tetap dari bahasa Melayu, tetapi diucapkan dengan cara yang mirip bahasa-bahasa daerah).

Ketiga, pinjaman (tepatnya ambil dan dijadikan milik sendiri) kata-kata dari bahasa-bahasa daerah dan asing (misalnya, Portugis, Belanda, dan Arab) yang mulai dipakai secara umum oleh seluruh masyarakat yang berbicara dengan Omong Kupang (misalnya, pakane'o, pe'e, toe, masparak, te, antero, kunyadu, sonu, balas teng, los, balansit, ba i u, batambi, dan lain sebagainya. Jadi ingat ada orang yang sinis ketika kuganakan Nick Name Abbah Jappy, karena menurutnya itu milik orang Arab. Padahal, di Kupang, sudah sangat lama orang Kupang menyebut Sebe, Abba, Abbah sebagai pengganti kata ayah atau bapak; sebe dan abbah sudah menjadi kata-kata di/dalam Omong Kupang)

Proses tersebut sudah sejak lama, sejak era VOC, Belanda, sampai pada adanya Omong Kupang (yang baku), dan kemudian mengalami penambahan kosa kata baru hasil serapan (akibat adanya arus Informasi dan Teknologi) dari bahasa prokem, gaul, daerah (di luar NTT),ataupun dialek-dialek yang muncul di TV Nasional, Radio, dan lain sebagainya.

Di samping itu, Omong Kupang semakin dibakukan sebagai alat komunikasi sehari-hari oleh generasi baru yang lahir dari orang tua yang berkomunkasi dengan Omong Kupang sebagai bahasa pertama, (artinya bukan lagi gunakan bahasa daerah suku dan sub-suku). Para generasi baru tersebut hanya mengenaldan mengerti Omong Kupang sebagai bahasa ibu, bahasa pertama, bahasa sehari-hari, dan bahasa Indonesia sebagai kewajiban berbahasa di Sekolah. Mereka, lebih tahu, mengerti, dan sebagai pengguna Omong Kupang hampir semua aktivitas hidup dan kehidupan.

Penggunaan Omong Kupang dalam kseharian pada berbagai bidang aktivitas tersebut, seringkali terjadi campur-baru berbahasa (ketika berbicara secara resmi atau pada forum resmi) anata Bahasa Indonesia dan Omong Kupang. Bisa saja seseorang memulai dengan Bahasa Indonesia dan kemudian bergeser ke Omong Kupang, atau pun sebaliknya; namun, yang mendengar mengerti serta paham apa-apa yang diucapkan. Sehingga seringkali banyak orang (terutama PNS, TNI, Polisi yang bukan petutur Omong Kupang, yang bertugas di Kupang), begitu cepat adaptasi bahasa ketika ia di Kupang.

Omong Kupang sebagai bahasa tersendiri dapat dibuktikan dari berbagai hal, antara lain: sistem bunyi (fonologi), tata bahasa dan pola wacana, dan pola bahasa yang digunakan dalam masyarakat. Secara singkat, di bawah ini terdapat beberapa contoh.

1379232920930227612

13792336961574808438

Coba simak beberapa hal pada Omon Kupang. Pada sistem kata kerja dan pembentukan kata bendadari kata kerja, bahasaIndonesia lebih menggunakan awalan dan akhiran (ber-, meng-, di-, memper-,ter-, -kan, -an, peng-, per- -an, ke- -an). Fungsi awalan Omong Kupang ta- tidakjauh beda dari bahasa Indonesia ter-. Tetapi fungsi-fungsi awalan Omong Kupang ba- tidak persis sarna dengan bahasa Indonesia ber-. Omong Kupangjuga bisa menggabung awalan yang tidak dapat digabung dalam bahasaIndonesia. Misalnya, ba-ta- (dong batasibu).

Bahasa Indonesia meng- hanya muncul dalam Omong Kupang pada beberapa kata yang sudah baku (misalnya, manyasal, manyangkal, mangaku). Salah satu fungsi dari akhiran bahasa Indonesia -kan diambil dari konstruksi kata kerja serial bahasa Kupangdengan ame (misalnya, bahasa Indonesia tunjukkan --> Omong Kupang tunjuame). Fungsi-fungsi lain dilayani dengan kata pendukung kasi dan bekin(misalnya, menjalankan -› kasijalan; menyembuhkan --> bekin bae).

Di samping itu, Omong Kupang juga mempunyai kata-kata penghubung yang berbeda dari bahasa Indonesia, misalnya, aisju (sesudah itu), akurang ko (mengapa, apa yan menyebabkan, penyebab), andiako ko (andia ko iko di pung mau, karena ikut maunya dia), te, tagal (karena itu). Omong Kupang juga mempunyai kata-kata yang muncul pada akhir kalimat atau akhir ucapan yang mencerminkan sikap atau keyakinan pembicara. Inimenjadi suatu sistem (modal system) yang tidak ada sistem sejajar dalambahasa Indonesia. Misalnya, ko?, na, ma, o.

Jadi, secara ilmiah, boleh dikatakan Omong Kupang Kupang mempunyai pola tata bahasa sendiri yang sangat berbeda daripada tata bahasa bahasa Indonesia. Ada pola dan sistem untuk Omong Kupangg secara keseluruhannya,yang secara ilmiah patut diteliti dan patut dihargai sebagai bahasa. Pendapat bahwa bahasa Kupang menjadi dialek bahasa Indonesia yang rusak, tidak berdasar ilmu bahasa atau sejarah masyarakat yang menggunakannya.

So basong jang lupa omong deng Omong Kupang.

 

Oleh Jappy M Pellokila

 

 

 

PALING GAMPANG

BELAJAR OMONG KUPANG 

BACA

ALKITAB OMONG KUPANG

 

 

 

Lintasan Sejarah Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur

OMONG KUPANG  

 

SEJARAH KUPANG

Kabupaten Kupang terletak pada 919 - 1057 Lintang Selatan dan 12130 - 12411 Bujur Timur; wilayah kabupaten terselatan di Indonesia. Memiliki 24 pulau, 3 yang berpenghuni, yakni:
- Pulau Timor dengan luas 4.937.62 km
- Pulau Semau dengan luas 246.66 km
- Pulau Kera seluas 1,5 km sedangkan sisanya 21 pulau merupakan pulau-pulau tidak berpenghuni.

Membahas dan memahami Sejarah Kabupaten Kupang tak lepas dari nama dan sebutan Kota Kupang. Wilayah Kota Kupang merupakan sebagian kecil dari wilayah Kabupaten Kupang, dan ada dalam satu 'Frame Sejarah.'

Wilayah Kabupaten Kupang pun sebetulnya merupakan 'gabungan' Kerajaan-kerajaan yang menyatu dan bergabung dengan NKRI.

###


Bentangan kepulauan yang terletak antara 80-120 Lintang Selatan dan 1180 - 1250 Bujur Timur, merupakan bagian dari NKRI. Gugusan pulau-pulau tersebut disapa dengan berbagai sebutan, antara lain, Sunda Kecil, Nusa Tenggara, Nusa Tenggara Timur, dan juga Flobamora.  Sebutan tersebut juga bisa bermakna ada aneka suku dan sub-suku di/pada wilayah tersebut, namun mempunyai satu tanda kesamaan yaitu sama-sama menyatukan diri sebagai anak-anak Flobamor ataupun NTT.

Jauh sebelum nama NTT tersebar, gugusan pulau-pulau di selatan Nusantara tersebut telah menjadi perhatian dunia. Harumnya aroma cendana dari Timor telah menerobos sampai Timur Tengah, China, dan Eropa, dan berbagai penjuru bumi. Kekuatan aroma cendana tersebut menjadikan para pedagang dari Malaka, Gujarat, Jawa dan Makasar, Cina melakukan pelayaran niaga untuk mencapai wilayah sumber cendana. Dan mereka melakukan kontak dagang secara langsung dengan raja-raja di Timor dan pulau-pulau sekitarnya, sang pemilik wilayah dan pemimpin rakyat.

Catatan sejarah dari China, manuskrip Dao Zhi, sejak tahun 1350 dinasti Sung sudah mengenal Timor dan pulau-pulau sekitar, dan salah satu pelabuhan terkenal di Timor adalah Batumiao-Batumean Fatumean Tun Am, yang ramai dikunjungi kapal dari Makasar, Malaka, Jawa, Cina dan kemudian Eropa seperti Spanyol, Inggris, Portugis, Belanda.

Komoditi dagangpada masa itu adalah kayu cendana, rempah-rempah, dan ternak sapi dan babi.

Negarakertagama, 1365, mencatat bahwa Timor yang terkenal dengan hasil cendananya merupakan wilayah Majapahit, namum mempunyai raja-raja yang otonom dan mandiri.  Ini juga berarti bahwa Timor dan pulau-pulau sekitarnya tidak pernah menjadi taklukan atau sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Majapahit.

Sebutan Kupang diambil dari nama Raja Helong, Nai Kopan atau Lai Kopan. Suku Helong menguasai wilayah Kabupaten Kupang (Kupang Tengah dan Kupang Barat). Daerah di sekitar Teluk Kupang sekitar tahun 1400-an dipimpin oleh raja Helong, yaitu Raja Koen Lai Bissi. [Lai Kopan diucapkan Belanda sebagai Koepan, dalam percakapan sehari-hari menjadi Koepang].

Ketika tahun 1510, Goa, India dikuasai Portogis, mereka melanjutkan eskpansinya dengan cara menguasai Malaka 1511. Malaka dijadikan pusat perdagangan serta penguasaan wilayah Nusantara. Portogis berhasil mencapai Maluku, Solor (Flores).

Sejak Malaka jatuh kedalam kekuasaan Portugis pada tahun 1511. Timor (Kupang) disinggahi secara rutin oleh para pedagang Portugis antara tahun 1518 - 1550-an.

Tahun 1522 sisa armada Ferdinand Magellan singgah di Alor dan Timor (Kupang). Dalam penyebrangan ke selat Pukuafu, kedua kapal ini tertimpa badai, salah satu kapal karam dan hancur. Salah satu jangkar raksasa kapal ini hingga kini masih ada di pantai Rote. Kapal  lainnya berhasil lolos dari amukan ombak melanjutkan perjalanan ke Sabu, kemudian ke Tanjung Harapan dan kembali ke Spanyol.

Sekitar tahun 1556 seorang Ordinis Praedicatorum yang bernama Pater Taveirea telah membaptiskan lebih kurang 5.000 orang di Timor.

Karya Portugis yang paling menonjol di Kupang adalah  tahun 1640-an, Pater Antonio de Sau Jacinto menjalin kerjasama yang baik dengan raja Kupang (raja Helong). Dilanjutkan dengan Raja Helong dan Permaisuri dibaptis. Raja diberi nama baru Don Duarte, dan Permaisurinya Dona Maria.

Pada 29 Desember 1645 ada perjanjian antara  Pater Antonio de Sau Jacinto dan Raja Helong; isinya antara lain, Jacinto mendapat izin
- mendirikan gereja
- mendirikan benteng
- kapal-kapal bangsa lain tidak diperbolehkan memasuki pelabuhan Kupang.

VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang didirikan pada tahun 1602, mulai berdagang ke Timor 11 tahun kemudian. VOC mengirim 3 kapal yang berlabuh ke Teluk Kupang dengan pimpinan Apolonius Scotte. Mereka disambut baik oleh Raja Helong, hingga ditawarkan sebidang tanah untuk keperluan VOC.

Tahun 1653, VOC menjadikan Kupang sebagai pangkalan perdagangan, serta menyingkirkan Portogis. Portugis yang sudah menduduki Pulau Solor diserang oleh VOC selama kurun waktu 38 tahun, 1625 - 1663. Benteng Portugis Ford Henricus berhasil direbut oleh VOC, namun tidak bertahan lama karena gempa bumi menghancurkan benteng tersebut. VOC merebut benteng Portugis di Kupang, Benteng Ford Concordia.

VOC menempatkan Pejabat tinggi yang disebut Opperhoofd, berkedudukan di Kupang. Tugas utamanya adalah melaksanakan misi VOC dibidang perdagangan dan politik, serta kerja sama dengan Raja-raja atau pemerintah setempat.

Namun, kerja sama dengan VOC tersebur, umumnya tak menguntungkan Raja-raja setempat. Terbukti pada tahun 1653 - 1756 VOC Belanda banyak melakukan pemerasan dan perbudakan dari setiap kerajaan.  Belanda lebih banyak melakukan pemaksaan pengambilan rakyat yang dijadikan budak darikerajaan-kerajaan sekitar Kupang (Kerajaan Kupang atau Helong, Ambai, Sonabai-Kecil, dan Amarasi).

Pada waktu VOC dibubarkan pada tahun 1799 , segala hak dan kewajibannya di Indonesia diambil alih oleh Pemerintah Belanda.
Peralihan ini tidak membawa perbaikan apa-apa, karena pada waktu itu Belanda menghapi perang yang dilancarkan oleh negara-negara tetangganya.

Pada waktu itu Belanda dikuasai oleh pemerintah boneka dari kekaisaran Napoleon,  Perancis. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Inggris untuk memperluas daerah jajahannya dan merebut jajahan Belanda.  

Tahun 1810, Belanda menempatkan Residen yang bernama J. A. Hazaart di Kupang. Namun, ia 'takluk' pada Inggris. Akibatnya sejak tahun 1811 - 1816 Kupang berada pada pemerintah peralihan Inggris. Kemudian setelah tercapai konvensi London pada tahun 1814 dan pemerintahan Belanda di Kupang dipulihkan tahun 1816 - 1942.

Sementara itu, pada 23 April 1886, Residen Timor, Creeve menetapkan batas-batas kota dan diumumkan dalam Lembaran Negara Nomor 171 tahun 1886; tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari lahir Kota Kupang.


Kupang pada masa Jepang 1942-1945

Serangan Jepang ke Wilayah Timur Hindia Belanda, dalam rangka 'membuat jembatan' untuk merebut Australia. Oleh sebab itu, Jepang harus menyerang Ambon dan Kupang. Ambon jatuh ketangan Jepang pada akhir Januari 1942.

Kupang mengalami serangan gencar tanggal 20 - 24 Februari 1942, Belanda menyerah pada Jepang,  Kupang pun dalam kekuasaan Jepang.

11 Agustus 1945 Jepang  menyerah pada tentara sekutu. 11 September 1945 Sekutu menmpatkan tentara di Kupang dalam komando Sir Thomas Blamey. Alasan resminya adalah melucuti senjata tentara Jepang; namun sebetulnya adalah membantu Belanda agar kembali menguasai Indonesia yang sudah merdeka.


Kupang pada Tahun 1945 -1958

Pasukan Belanda dengan 'baju' Sekutu menguasai Kota Kupang, dan menerobos ke kota-kota di Timor. Praktis seluruh jalur utama dan kota-kota dalam kontrol Belanda. Walikota Kupang, dari masa Jepang, Dokter Gabeler,  dicopot dari jabatannya oleh Belanda. Padahal, masa itu, Indonesia sudah merdeka.

Belanda kemudian menunjuk C.W. Schuller sebagai Residen Keresidenan Timor dan pulau-pulau sekitar.

Tanpa peduli dengan Kemerdekaan RI dan pemerintahan Soekarno-Hatta,
18 -- 24 Desember 1946 Belanda menyelenggarakan "Konferensi Denpasar," dalam rangka tata kelola wilayah sebagai bagian dari Negara Indonesia Timur atau NIT,
[Utusan dari Timor I.H. Doko, A. Rotti dan G Manek; A. Rotti diganti J.S. Amalo.].

Terbentuknya Negara Indonesia Timur (NIT), sebetulnya berangsur-angsur kekuasaan Belanda dihapuskan. Pemerintah NIT mengeluarkan instruksi membebaskan pegawai Belanda dari semua jabatan  di NIT. Desember 1947, PM NIT, Anak Agung, menujuk I. H. Doko sebagai Menteri Muda Penerangan NIT.

Tahun 1949 terjadi gabungan kerajaan-kerajaan Timor dan pulau-pulaunya menjadi Daerah Timor dan kepulauannya. 'Dewan Kerajaan' tersebut pada 1 Oktober 1949 mengangkat H.A. Koroh sebagai Kepala Daerah Timor dan Kepulauannya.

Berdasarkan Peraturan Daerah Timor dan Kepulauannya 29 April 1949, dilaluku pemilihan anggota DPRD pada Oktober dan Nopember 1949. Hasilnya adala 28 orang Anggota DPRD demgan E. R. Here Wila sebagai Ketua dan Th. Messakh sebagai wakil ketua.

H.A. Koroh meninggal 29 Maret 1951; DPRD bersidang untuk memilih Kepala Daerah yang Baru. Tiga nama yang diajukan kepada Menteri Dalam Negeri NIT yakni J. S. Amalo, I. H. Doko, E. D. Johannes. Meo 1951, Menteri Dalam Negeri NIT menetapkan J. S. Amalo sebagai Kepala Daerah Timor dan Kepulauannya.

Tahun 1951 J S Amalo ajukan ke Mendagri NIT agar berhenti dari jabatannya, tapi ditolak. Tahun 1954 terjadi pergantian Kepala Daerah dari J. S. Amalo ke St Ndun. Tapi, St.Ndun juga ajukan permohonan berhenti karena pertentangan dengan DPRD. Tahun 1958 permohonan St.Ndun dikabulkan, diganti oleh W.C.H. Oematan.

Bupati-bupati Kabupaten Kupang

W. Ch. Oematan
Bupati Kabupaten Kupang  Tahun 1958 - 1972

Drs. A. A. Adi
Bupati Kabupaten Kupang
1973 - 1978
1979 - 1983

Y. K. Moningka
Bupati Kepala Daerah Kabupaten Kupang, Tahun 1984 - 1989

Paul Lawa Rihi
Bupati Kabupaten Kupang
Tahun 1989 - 1994
Tahun 1994 -1999.

Drs. Ibrahim A Medah
Bupati Kabupaten Kupang
Tahun 1999 - 2004
Tahun 2004 - 2009

Dr. Ayub Titu Eki
Bupati Kabupatem Kupang
Tahun 2009 - 2014
Tahun 2014 - 2019

2019 - 2024 ...



Masukan-masukan untuk Beking Bagus ini Lintasan Sejarah Kab Kupang,

Basong Bisa WA Kas Beta di +62818121642

 
Awesome God Bless Pic

 

 

Pround christian!

 

christian-desi-glitters-1

 

 

flowers-desi-glitters-45

roses-desi-glitters-24